Daerah  

Sedih Tapi Nyata ! Mantan Atlet Banting Stir Jadi Petani

Avatar
KALIANDA – Kehidupan para atlet tak semuanya serba berkecukupan seperti yang kita bayangkan.
Tengok saja kisah Jovika Indri Steven (20), gadis muda peraih medali perunggu pada lomba cabang olah (cabor) raga lompat jauh ajang Pekan Olah Raga Provinsi (Porprov) Lampung ke-VIII di tahun 2017 yang lalu.
Jovika sapaan akrabnya, diketahui tinggal bersama ibu dan adiknya di Dusun Waringin Harjo, Desa Agom, Kecamatan Kalianda, Lampung Selatan.
Apa daya, sang juara tak sempat menikmati glamournya kehidupan atlet. Bahkan, kini harus menerima kenyataan kerasnya hidup dengan banting stir menjadi seorang petani kebanyakan.
Pahit memang, tapi kebutuhan hidup memaksa Jovika dan ibunda harus menggantikan peran sang ayah karena sudah lebih dulu dipanggil menghadap yang maha kuasa sejak lima tahun lalu.
“Saya tidak bekerja karena sulit mendapatkan lahan pekerjaan, jadi saya bantu ibu bertani. Supaya kami bisa menyambung hidup, karena saya masih punya adik juga yang harus sekolah,” keluh Jovita kepada media, Jum’at (22/10/221).
Berdasarkan pengakuannya, dalam rentang tahun 2014-2019 ia sudah berjibaku di cabang olah raga lompat jauh demi mengharumkan nama kabupaten dengan julukan bumi khagom mufakat itu.
Meraih medali emas, perak hingga perunggu dari cabor lompat jauh dan lari cepat ternyata tak cukup untuk mengantar Jovika mengenyam dunia perkuliahan.
Kini, dia hanya bisa menggantungkan secercah asa kepada Bupati Lampung Selatan Nanang Ermanto. Berharap, Pemerintah Daerah mau memperhatikan nasibnya.
“Saya masih berkeinginan mengabdi untuk Lampung Selatan. Namun, sekarang sudah tidak bisa karena umur saya sudah lebih dari persyaratan yang ada,” kata Jovika, penuh harap.
Setidaknya, raihan medali dan prestasi yang pernah ia torehkan demi Kabupaten Lampung Selatan dapat dijadikan bahan pertimbangan para pemangku kebijakan.
“Saya mohon kepada bapak Nanang, agar bisa menjadikan piagam-piagam saya sebagai pertimbangan agar saya masih tetap bisa mengabdi untuk Lampung Selatan,” pintanya lagi.
Erna (40) ibu dari Jovika pun mengamini, tak mudah bagi ibu seusianya meski dibantu anaknya yang harus berjibaku menyambung hidup dan membiayai kebutuhan sekolah.
“Setelah suami meninggal pada tahun 2017 lalu, saya sudah menjadi tulang punggung keluarga. Saya juga tidak punya pekerjaan. Hanya mengandalkan menanam sayur dan petani padi,” ujar Erna.
Sebagai manusia biasa, dirinya hanya bisa pasrah. Mana tau, ada pihak-pihak yang terketuk hatinya dan mau membantu untuk sedikit meringankan beban hidupnya.
“Saya berharap, ada bantuan dari Pemerintah untuk membantu kami. Karena, selama ini kami tidak mendapatkan bantuan-bantuan apapun,” tutup Erna. (Han)