Daerah  

Dalam Forum Temu Teknis, Perhiptani Lampung Komitmen Dukung Program Kementan RI

Avatar
LAMPUNG — Wakil Menteri Pertanian Republik Indonesia hadir secara virtual dalam temu teknis yang diselenggarakan oleh Balai Pengkajian Teknologi Pertanian (BPTP) Lampung dan Perhimpunan Penyuluh Pertanian Indonesia (Perhiptani) Provinsi Lampung, Rabu (10/11/2021).
Mengambil tempat di kantor BPTP Lampung, acara itu dihadiri oleh Kepala BPTP Lampung Jekvy Hendra, Ketua DPW Perhiptani Provinsi Lampung Sutono.

Dengan menghadirkan narasumber diantaranya, Dekan Fakultas Pertanian Unila Irwan Sukribanua, Peneliti Utama Balitbangtan Frama Yufdi, Penyuluh pertanian Balitbangtan Dani Medionovianto, Ketua DPD Perhiptani se- Provinsi Lampung, Perserta Peneliti dan Penyuluh Pertanian seluruh Indonesia baik online dan offline.
Temu teknis itu sendiri, di inisiasi untuk mewujudkan ketahanan pangan di Provinsi Lampung. Dimana, tantangan pembangunan pertanian baik di masa sekarang dan mendatang tentunya akan lebih kompleks.
Terlebih, isu perubahan iklim global yang begitu cepat belum lagi tuntutan kebutuhan manusia di era serba cepat, tepat dan akurat dewasa ini telah menjadikan teknologi sebagai suatu keharusan. Konsekuensinya adalah, diperlukannya sumberdaya manusia pertanian yang berkualitas dan siap pakai kapan saja dimana saja.
“Sektor Pertanian Provinsi Lampung masih menjadi lapangan usaha yang tetap tumbuh positif melalui penguatan lumbung dan kesejahteraan petani berbasis korporasi petani. Tetapi, perlu adanya pendampingan secara berkelanjutan oleh Penyuluh Pertanian,” kata Wamen Pertanian Harvick Hasnul Qolbi, dalam sambutannya.
Hal itu, semakin diperkuat dengan telah diterbitkannya Keputusan Menteri ATR/Kepala BPN No.686/SK-PG.03.03/XII/2019 Tanggal 17 Desember 2019 tentang Penetapan Luas
Lahan Baku Sawah (LBS) Nasional Tahun 2019.
Terungkap, dari data dan fakta keputusan tersebut diatas, sejumlah LBS seluas 7.463.948 hektare dan ternyata LBS milik Provinsi Lampung sendiri mencapai luas 361.699 hektare.
Artinya, petani masih menjadi tokoh sentral yang memegang peranan penting untuk mencapai target produksi pangan terutama agar kebutuhan pangan bagi 270 juta lebih penduduk Indonesia dapat terpenuhi dengan baik.
“Oleh karena itu, perlu adanya peran penyuluh pertanian dan para peneliti untuk mengkaji dan mendiseminasikan teknologi baik teknis maupun aspek non teknis untuk mempercepat berbagai program pemerintah yang dapat diakses dengan mudah oleh petani dan pelaku usaha dalam mewujudkan ketahanan pangan,” lanjut Wamen Pertanian.
Sebagai upaya pendukung program Kementerian Pertanian untuk peningkatan produksi pangan, diperlukan peningkatkan kualitas pelaku utama atau produsen komoditas pertanian melalui berbagai program peningkatan sumber daya manusia yang mendukung kedaulatan pangan terutama padi di wilayah Provinsi Lampung.
“Beberapa inovasi hasil pengkajian Balitbangtan termasuk BPTP Lampung
terbukti dapat meningkatkan produksi, dan pendapatan petani. Beberapa inovasi yang diperkenalkan antara lain penggunaan VUB (Varietas Unggul Baru) padi baik Inpari, Inpago ataupun Inpara, penggunaan alat mesin
pertanian seperti tanam transplanter Indojarwo dan Combine Harvester, sistim tanam jajar legowo, teknologi budidaya bawang merah, PTT cabai dan teknologi lainnya, PTT padi sawah,” rinci Harvick Hasnul Qolbi sembari melempar pujian.
Faktor kunci untuk meningkatkan kemampuan petani bisa ditempuh melalui penyelenggaraan penyuluhan pertanian dalam bentuk bimbingan teknis dan temu teknis, pelatihan, magang, tugas belajar sangat berdampak positif terhadap keberhasilan mewujudkan ketahanan pangan.
Maka dari itu, pelaksanaan temu teknis semestinya bisa menambah pengetahuan dan keterampilan penyuluh pertanian yang
berdampak mempercepat adopsi inovasi teknologi oleh petani dan pengguna lainnya.
Kementerian Pertanian sendiri memiliki program penguat yakni Gerakan Tiga Kali Lipat Ekspor (Geratieks). Dengan begitu, akses informasi terkait potensi komoditas ekspor di masing-masing daerah terbuka lebar dan memiliki tujuan ekspor yang bisa diakses melalui aplikasi peta potensi ekspor dan IMACE (Indonesia Maps of Agriculture Commodities Export). Diperkuat dengan Kecanggihan Agriculture War
Room yang disertai program lainnya.
“Kesemua Program Kementerian Pertanian akan berhasil guna bagi masyarakat apabila adanya peran pemerintah daerah, lembaga penelitian, penyuluh pertanian dan masyarakat dalam mewujudkan ketahanan pangan yang berkualitas dan berkelanjutan,” tutup Harvick Hasnul Qolbi.
Senada, Ketua DPW Perhiptani Provinsi Lampung Sutono, mendorong temu teknis peneliti dan penyuluh pertanian bisa di selenggarakan secara berkesinambungan dengan Perhiptani dan BPTP Lampung sebagai motor penggerak.
“Perhiptani sebagai organisasi profesi bersifat keilmuan, keahlian, persaudaraan, kemasyarakatan, kemandirian dan tidak berafiliasi dengan organisasi politik siap mengembangkan dan menyebarluaskan ilmu serta teknologi melalui penyuluhan pertanian,” ujar Sutono.

Melihat sektor pertanian di Provinsi Lampung masih menjadi lapangan usaha yang konsisten tumbuh positif terlihat dari penguatan lumbung dan kesejahteraan para petani berbasis korporasi petani, ia menilai pendampingan oleh tenaga penyuluh pertanian perlu dilakukan secara berkelanjutan.
Adanya dinamika penggabungan lembaga riset ke BRIN termasuk Balitbangtan Kementan, jika pada level provinsi adalah BPTP. Tentunya, sedikit banyak akan memberikan efek terhadap pembangunan sektor pertanian.
“Menyikapi hal itu, perlu segera diadakan lembaga pengganti yang mengkaji dan mendiseminasikan inovasi teknologi (pertanian, red.). Karena, selama ini BPTP telah menjadi salah satu sumber informasi teknologi dan menjadi penggerak percepatan pembangunan pertanian di daerah,” imbuh Sutono sembari berharap.
Terakhir, ia juga menyoroti peningkatan SDM pertanian khususnya para penyuluh pertanian. Bahkan, dirinya mendorong supaya Kementerian Pertanian dapat mempertimbangkan upaya peningkatan jumlah penyuluh pertanian termasuk didalamnya kesejahteraan para penyuluh agar terwujud sektor pertanian menjadi lebih menarik juga menguntungkan.
“Pada dasarnya, Perhiptani Provinsi Lampung secara kelembagaan siap mendukung program Kementerian Pertanian yang bermuara mensejahterakan pelaku utama dan pelaku usaha,” pungkas Sutono.
(Red)