Urgensi Pendidikan Antikorupsi Sejak SD

Avatar
LAMPUNG – Kasus korupsi yang menggerogoti hampir setiap sendi roda ekonomi memantik keprihatinan peraih Awardee Akademi Jurnalistik Lawan Korupsi – Komisi Pemberantas Korupsi tahun 2021, Resa Ariyanto.
Apakah pentingnya pendidikan antikorupsi sejak sekolah dasar (SD) ? begitulah kira-kira tanda tanya besar yang mendasari sebuah tulisan dikirimkan ke meja redaksi. Dimana, kesadaran akan dampak korupsi lebih destruktif ketimbang terorisme mengusik Resa Ariyanto mencoba memberangus bibit korupsi sejak dini.
“Pembentukan karakter anak harus dimulai sejak memasuki bangku sekolah, terutama SD. Usia SD merupakan usia yang sangat tepat dalam perkembangan kognitif dan psikososial anak,” bunyi tulisan pria pemegang gelar Magister Akuntansi itu, Kamis (11/11/2021).
Menurutnya, penanaman pendidikan anti korupsi dapat membantu meningkatkan nilai moral anak, bahwa korupsi adalah suatu tindakan yang salah dan dapat merugikan banyak pihak. Memberikan pendidikan karakter antikorupsi sejak SD turut menanamkan nilai kejujuran pada anak yang akan dibawanya hingga memasuki dewasa dan dunia kerja. Pendidikan anti korupsi merupakan tindakan pengendalian sejak dini dalam mengurangi jumlah tindakan korupsi.
“Menurut Indonesia Corruption Watch (ICW), nilai kerugian akibat korupsi terus mengalami peningkatan selama Semester I dari 2018 – 2021 sebesar 47,6 persen. Hal ini tidak berbanding lurus dengan angka penindakan kasus korupsi yang mengalami fluktuatif. Artinya semakin sedikit kasus korupsi, namun jumlah dana yang dikorupsi semakin besar,” lanjut Resa Ariyanto.
Sehingga, pengenalan nilai-nilai anti korupsi untuk anak SD sangat penting dalam mendorong generasi muda untuk kritis dalam bertindak. Nilai – nilai tersebut perlu dikenalkan dan diajarkan sejak SD untuk membentengi diri dari sikap koruptif. Nilai – nilai tersebut di antaranya kejujuran, tanggung jawab, kesederhanaan, kepedulian, kemandirian, disiplin, keadilan, kerja keras, dan keberanian.
Nilai anti korupsi sendiri di klasifikasi menjadi tiga konsep, yaitu nilai inti, etos kerja, dan nilai sikap. Nilai inti dari antikorupsi di antaranya jujur, tanggung jawab, dan disiplin. Ketiga nilai ini wajib diajarkan sejak SD dalam melaksanakan tugas dan tanggung jawab sebagai siswa SD. Implementasi nilai inti akan selaras dengan etos kerja yang mandiri, kerja keras, dan sederhana. Dari kombinasi antara nilai inti dan etos kerja akan tercerminkan melalui nilai sikap yang berani, peduli, dan adil.
“Pendidikan anti korupsi melalui jalur pendidikan dirasa lebih efektif sejak SD karena pendidikan merupakan proses perubahan sikap mental yang terjadi pada diri seseorang selama menempuh pendidikan. Melalui pendidikan akan mudah dalam membentuk sistem dan pengukurannya melalui perubahan perilaku antikorupsi anak di sekolah. Perubahan dapat dilihat dari sikap yang acuh kepada para koruptor ke sikap menolak secara lugas tindakan korupsi,” beber pria yang juga mengajar di Universitas Terbuka.
Tak berhenti disitu, peningkatan mutu pendidikan yang berkualitas sangat diperlukan di Indonesia karena degradasi moral generasi muda sudah terasa di lingkungan sekitar, seperti generasi muda lebih suka mengikuti budaya westernisasi (budaya kebarat-baratan, red.) daripada budaya asli Indonesia, lemahnya mental generasi bangsa karena kurang bimbingan dan didikan orang tua, serta perkembangan teknologi yang di manfaatkan untuk hal – hal yang negatif. Mutu kualitas pendidikan yang rendah akan mendorong munculnya praktik korupsi di masa depan.

Terpenting, pendidikan karakter anti korupsi sejak SD dapat dimulai dari hal-hal kecil yang biasa dilakukan oleh anak dengan memberikan pemahaman penuh tentang korupsi dan bahaya laten dari tindakan korupsi. Orang tua dapat memberikan pemahaman atau contoh semisal,
selalu mengajarkan berkata jujur dan menepati janji.

“Perilaku kejujuran adalah nilai kehidupan yang paling dasar dan paling penting yang harus diajarkan kepada anak sejak dini. Mendidik dan mengajarkan anak untuk bertutur-kata, bersikap, dan berperilaku jujur, serta memenuhi janji akan menjadi pembelajaran yang berguna untuk kehidupan usia dewasa sehinga menjadi sebuah kebiasaan yang baik dan terpuji.
Mengerjakan tugas atau pekerjaan rumah (PR) dengan penuh tanggung jawab,” imbuh Resa Ariyanto yang kini mengabdikan diri di salah satu BUMN.
Pada intinya, tugas dan PR yang diberikan oleh guru di sekolah harus dikerjakan secara penuh tanggung jawab. Orang tua adalah guru pertama di rumah sehingga orang tua harus mampu membimbing anak untuk mengerjakan tugas. Jangan sampai tugas dikerjakan orang tua dan anak tidak mengerti tentang tugas apapun. Hal tersebut dipandang baik oleh orang tua, namun hal itu justru akan menjerumuskan ke arah kebodohan jika terlalu memanjakan anak dalam mengerjakan tugas.
Datang ke sekolah secara tepat waktu.
Disiplin merupakan salah satu kunci kesuksesan hidup. Kebiasaan datang tepat waktu akan tercermin sampai dengan anak memasuki dunia kerja sehingga hal ini sangat penting sekali diajarkan sejak dini. Menggunakan uang saku dengan bijak.
Literasi keuangan sangat penting dalam memberikan pendidikan kepada anak tentang manajemen keuangan. Hal ini menjadi modal penting untuk membangun kehidupan rumah tangga anak yang akan datang.
Memberikan keteladan untuk anak.
Memberi teladan adalah metode pendidikan terbaik. Orang tua dan para guru harus memikirkan bagaimana pendidikan yang benar dan mencari metode terbaik untuk diberikan kepada anak didiknya. Implementasi pendidikan antikorupsi sejak SD diharapkan mampu membekali generasi yang akan datang dengan berbagai pengetahuan tentang bahaya laten korupsi.
“Hal ini dapat didukung dengan peraturan, kebijakan, maupun tindakan untuk mencegah korupsi di masa yang akan datang. Ilmu pengetahuan yang diberikan sejak SD diharapkan generasi muda untuk membangun Indonesia menjadi negara maju. Marilah, tanamkan sikap anti korupsi sejak SD supaya tidak merugikan diri sendiri, orang lain dan negara,” bunyi penghujung tulisan Resa Ariyanto. (Red)
Penulis :
Resa Ariyanto, S.E., M.Acc. adalah Awardee Akademi Jurnalistik Lawan Korupsi – Komisi Pemberantas Korupsi tahun 2021. Saat ini bekerja di Badan Usaha Milik Negara dan Universitas Terbuka.