banner 325x300
Politik

Seorang Hipni, Dari Desa Palas Pasemah, DPRD 2 Periode Hingga Ingin Menuju Lamsel 1

189
×

Seorang Hipni, Dari Desa Palas Pasemah, DPRD 2 Periode Hingga Ingin Menuju Lamsel 1

Share this article

KALIANDA – Bakal calon Bupati Lampung Selatan periode 2020-2025 Hi.Hipni SE mempunyai perjalanan hidup yang berliku. Lahir pada 4 Juli 1973 dari orang tua Ayah M. Zaini, Ibu Asdah (semua alm) petani di Desa Palas Pasemah, Lampung Selatan, Hipni melewati masa kanak-kanak hingga menempuh pendidikan tingkat pertama di kampung halamannya itu yang dikenal sebagai daerah penghasil padi.

“Mandi di kali, bermain di sawah, bahkan main perang-perangan ala tentara di kampung bersama teman teman sebaya. Semua anak kampung saya rasa punya pengalaman yang sama,” ujar Hipni saat bincang-bincang di kediamannya di Palas belum lama ini.

Pendidikan SD dan SMP dienyam Hipni di tanah kelahirannya di Palas. Barulah ketika Hipni memasuki jenjang pendidikan tingkat atas, dia sekolah di SMA Negeri 1 Kalianda dan tamat pada tahun 1991.

Setamat SMA, Hipni melanjutkan studinya di program diploma di Universitas Lampung mengambil program studi koperasi. Tidak hanya sampai disitu, pria yang kini menjadi pengusaha sukses ini, melanjutkan kuliah S1 di Sekolah Tinggi Ilmu Ekonomi Satu Nusa Bandar Lampung hingga gelar sarjana ekonomi berhasil disandangnya.

“Dari awal kuliah sampai selesai, saya hanya dibekali dana Rp1,5 juta dari orang tua,” tutur Hipni.

Dengan begitu, Hipni muda harus memutar otak bagaimana study-nya dapat selesai. Belum lagi untuk biaya hidup sehari-hari dan biaya kebutuhan sekolah. Dia pun bertekad tak ingin membebani lagi orang tua.

Pertama terpikir oleh suami dari Yuti Rama Yanti ini adalah pasar. Tempat transaksi keuangan tradisional terbesar. Dia yakin di pasar dia dapat menangguk rupiah, sekali pun itu hanya untuk menyambung hidup.

Bekerja keras memang didikan dari kedua orang tuanya. Hipni pun tidak lagi kaget jika setiap pagi, mau tidak mau dia menjadi tukang panggul sayur di Pasar Tugu Bandar Lampung. Jual beli ikan asin pun dia lakoni oleh ayah dari 3 putrinya.

“Saya pernah jadi operator mesin foto copy di koperasi mahasiswa Unila. Jual alat-alat tulis untuk calon mahasiswa Sipenmaru. Sempat juga jadi tukang panggul sayur di pasar Tugu dan dagang ikan asin,” ungkapnya.

Hipni mengakui tahun-tahun pertama dia kuliah di Bandar Lampung adalah tahun yang paling sulit, dimana disituasi itu belum banyak kenalan dan pengalaman hidup di kota. Meski berstatus mahasiswa, namun demi menyambung studinya, pekerjaan kasar tidak ditolaknya.

Setamat kuliah pada tahun 1996, bermodal title sarjana ekonomi, Hipni pulang kampung. Hipni merasa saat itu mengalami dilema, perasaan kegamangan. Di tahun itu, situasi politik dan ekonomi Indonesia belum menjanjikan. Satu sisi ada cita-cita membangun tanah kelahiran, sisi lain ada target untuk masa depan.

Di tahun itu juga, Hipni akhirnya memutuskan menjadi tenaga kerja Indonesia (TKI) di Korea Selatan (Korsel). Di Negeri Ginseng itu hanya dijalaninya selama 3 tahun. Tahun 1999 pasca reformasi, dia memutuskan untuk pulang ke tanah air.

Dari hasil menyisihkan gajinya selama 3 tahun sebagai TKI di Korsel, Hipni merintis usaha telkomunikasi, wartel tanpa jaringan dan memulai lagi usaha beras dan perikanan.

Bermandikan segudang pengalaman yang telah dijalaninya, Hipni sadar betul pentingnya organisasi. Disamping menjalankan usaha, dia pun berinteraksi dengan berorganisasi, menghidupkan karang taruna, kegiatan sosial dan olah raga di Kecamatan Palas.

“Semua saya rintis dari nol, modal saya hanya pengalaman dan tabungan bekerja sebagai TKI, dan yang paling penting modalnya adalah kepercayaan,” katanya.

Kepercayaan itu, terus Hipni, bukan saja kepercayaan terhadap pemilik barang atau modal. Tetapi juga kepercayaan dari konsumen, apa yang dibayar pembeli adalah sesuai dengan barang yang diharapkan.

Semangat pengabdiannya untuk memajukan kampung halamannya ia buktikan secara nyata.
Hingga tahun 2002, atas desakan dan dorongan warga masyarakat Hipni mulai terjun ke dunia politik. Hipni mencalonkan diri dan terpilih sebagai kepala desa di kampung halamannya di Desa Palas Pasemah.

Jabatan kades disandangnya dari tahun 2002-2008. Saat Hipni menjabat kepala desa, banyak sekali tokoh-tokoh masyarakat yang mendatangi dia untuk mendorong tokoh muda dari Palas ini untuk meluaskan pengabdiannya tidak hanya di Palas Pasemah saja, tapi meluas untuk Kabupaten Lamsel. Masyarakat meminta Hipni maju sebagai anggota DPRD Lamsel.

“Awalnya saya sempat ragu, apakah sanggup menerima amanah dari masyarakat. Sebuah tanggung jawab besar yang menanti, saya” tukasnya.

Keputusan dibuat, Hipni maju sebagai calon legislatif (Caleg) dari PDIP.
Alhasil, pada Pemilihan Legislatif 2009, Hipni menjadi salah satu dari 45 anggota DPRD Lampung Selatan yang terpilih dan duduk di lembaga legislatif untuk periode 2009-20014.

(Bersambung)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *