BOJONEGORO – Menjadi seorang pendidik bisa dibilang menjadi seniman yang sedang mengerjakan mahakarya peradapan manusia yang akan datang. Untuk itu, Ike Rikna Wahyuningsih, yang merupakan seorang pendidik di TPA KB TKIT Mutiara Hati Kalitidu, Bojonegoro, benar-benar penuh semangat, kreatif, inofativ dan menyenangkan.
Menurut Ike, belajar bersama ananda TPA KB TKIT Mutiara Hati Kalitidu, itu sangat menyenangkan, karena bisa penuh canda tawa setiap hari. Akan tetapi, sejak adanya pandemi Covid-19, bahkan bukan hanya Ike sendiri yang merasakan, tetapi semua orang yang menjadi pendidik merasakan dampaknya.
“Awalan sangat riweh pastinya, banyak sekali suka dukanya, yang awalnya belajar secara tatap muka (luring),” kata Ike, Sabtu (16/1/2021).
Perempuan warga Dusun Alasmati, Desa Sudu, Kecamatan Gayam, Kabupaten Bojonegoro itu menjelaskan, dengan pembelajaran seperti itu memungkinkan adanya pengelolaan kembali perangkat pembelajaran serta kegiatan pembelajaran. Karena memang mengganti hal itu tidaklah sangat mudah.
Akan Tetapi, dengan semangatnya para pendidik untuk masa depan siswanya, terkadang dengan perangkat pembelajaran dan kegiatan pembelajaran yang bisa mengena di peserta didik, para pendidik rela untuk lembur dari pagi sampai sore.
“Jadi, sayangi para guru-guru. Karena perjuangan seorang guru itu sungguh luar biasa. Ketika melihat siswa kita sangat berantusias dan semangat dalam melakukan kegiatan pembelajaran, berarti sama dengan melegakan hati kita,” ungkapnya.
Mahasiswa IAI Sunan Giri Bojonegoro semester akhir ini menambahkan, agar tidak penat dan strees di masa pandemi Covid-19. Ikke, mensiasati dengan berkebun, karena itu merupakan seni memelihara, kita bisa mencoba hal baru, membuat eksperimen, menyayangi dan menyatu dengan tanaman.
Bahkan, menurut Ike, banyak sekali cara yang dilakukan orang untuk mengisi rasa penatnya. Tinggal setiap individunya masing-masing. Selain berkebun juga bisa shopping atau pun berwisata di pantai, gunung dan sebagainya. Tujuannya adalah mengusir kepenatan, setelah sehari-hari menjalani rutinitas bekerja, kuliah dan kegiatan rumah.
“Menurut saya, mengisi liburan tidak harus mahal. Dengan cara sederhana pun sudah mengusir kepenatan. Menyatu dengan alam dan bersahabatlah dengan alam, karena ketika ada di alam pastinya merasa tenang, damai dan nyaman. Dan ketika bertemu dengan peserta didik pasti akan selalu penuh dengan canda tawa dan bahagia,” tandasnya. (Am)












