banner 325x300
Daerah

Di Bawah Langit Bumi Wali, Mukaromatun Nisa Kini Sudah Terbitkan Sebelas Buku

235
×

Di Bawah Langit Bumi Wali, Mukaromatun Nisa Kini Sudah Terbitkan Sebelas Buku

Share this article

TUBAN – Jumat (27/11/2020). Langit tengah bersahabat dengan bumi. Walau November tahun ini, bisa di bilang “November Rain”. Awan-awan saling bercengkerama di atas sana. Beberapa menyelimuti surya hingga panas tak begitu terasa.

Di Bawah Langit Bumi Wali, ada sosok perempuan yang ingin mengenalkan tempat tinggalnya melalui menulis. Iya, perempuan itu bernama Siti Nur Mukarromatun Nisa. Ia merupakan seorang penulis. Sambil malu-malu, ia menceritakan pengalamannya menjadi penulis. Tak hanya menulis, ternyata ia juga merupakan salah satu santriwati Pondok Pesantren Al-Khikmah, Kecamatan Soko, Tuban.

Perempuan kelahiran 22 Oktober 2003 ini merupakan putri dari pasangan Sahir dan Ismuyatin, warga RT/RW. 001/004 Desa Prambontergayang, Kecamatan Soko, Tuban.

Nisa sapaan akrabnya, lewat menulis adalah salah satu cara untuk berdakwah. Bahkan, Nisa ingin setiap pembacanya menikmati rangkaian kata indahnya. Gadis yang murah senyum ini, bisa di bilang penulis yang sangat produktif.

Di umur yang masih muda (17) sudah menerbitkan sebelas karya buku baik solo maupun antologi. Buku yang sudah terbit yaitu; Di Bawah Langit Bumi Wali, Pesantren Dari Surga dan Dalam Naungan Takdir merupakan buku solonya. Sedangkan buku antologi diantaranya; Kangen, Kartini Masa Kini, Puisi Kinanthi, Pentigraf 60, Lihat Dengar, Rasakan (LDR), The Book, Palestina Tercinta dan Bukan Kehilangan.

“Dengan nulis, Nisa bisa mewujudkan apa yang Nisa mau. Misal, Nisa kepingin ke Yaman. Akhirnya buat cerpen tentang Yaman. Seakan-akan Nisa jadi tokohnya. Berasa ke Yaman. Dan rasanya itu seneng banget. Setidaknya keinginan kita terwujud di karya dan semoga saja juga terwujud di nyata,” ujar perempuan yang murah senyum ini.

Pelajar asal SMK Al-Khikmah Soko, Kabupaten Tuban ini mengaku, dalam menulis kita bisa mengabdi dan mengabadi. Mengabdi dalam berdakwah dan mensyiarkan islam serta mengabadi dalam nama. Supaya kita dikenal dunia, karena apabila kita mati, karya kita nanti akan bercerita pada dunia bahwa kita pernah ada.

“Menulis dapat membuat kita dikenal dan dikenang. Seperti yang dikatakan semar dalam dunia pewayangan, “Ojo mati tanpo aran” yang artinya jangan mati tanpa nama,” tandasnya.

Guna untuk mengasah dan menambah wawasannya. Ia juga aktif di beberapa komunitas literasi diantaranya; KBM, SPN, Redaksi q-tha, KSJ, TBM Kinanthi, Sanggar Meraki, Sanggar Aksara, Kpp-Cs dan Ilc.

Perihal waktu untuk menuangkan ide dalam menulis. Biasanya ia menulis selepas shalat malam atau istirahat sekolah. Pokoknya di waktu senggang dan sepi. “Dalam menulis itu, pokognya bisa mengungkapkan rasa. Aku lagi sedih, bikin cerita sedih. Kek curhat gitu. Dan rasanya plong. Enak banget pokok,” ungkapnya. (Am)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *