IB, 22 Oktober ditetapkan Presiden Jokowi sebagai Hari Santri Nasional.
Memaknai hari santri memandakan bahwa santri memiliki peran penting direpublik ini baik pra kemerdekaan dan pasca kemerdekaan santri tetap konsisten mendeklarasikan diri setia kepada NKRI
Agar tidak menjadi acara seremonial belaka, atau sekadar membagikan ucapan² disosial media, tentu kita harus mengetahui apa subtansi dari peringatan hari santri.
Menurutku ada beberapa hal penting yg harus kita ketahui yaitu :
1. Resolusi Jihad
Para kyai dan santri adalah satu elemen penting yg turut serta melawan segala bentuk penjajahan baik melalui sikap dengan berperang dibeberapa titik dinusantara yg dipimpin oleh para Kyai, maupun dengan sikap para kyai bahkan melarang santri dan warganya untuk mengikuti tradisi dan budaya barat yg dibawa oleh penjajah, yang didasari oleh hadis ” barang siapa yg meniru suatu kaum, maka ia termasuk dari kaum tersebut.”
Indonesia diproklamirkan merdeka oleh bung Karno pada tanggal 17 Agustus 1945. Dua bulan pasca merdeka bulan Oktober 1945 sekutu mendarat kembali di surabaya untuk merebut kemerdekaan Indonesia.
Tanggal 22 Oktober Rais Akbar Nahdlatul Ulama KH. Hasyim Asy’ari menumpulkan Kyai-Kyai dari Banten, Cirebon , Madura dan Jawa timur. Dalam pertemuan itu Kiai Hasyim mengeluarkan fatwa monumental yang kemudian dikenal dengan sebutan Resolusi Jihad. (Sunyoto : 2013)
“Hubbul Wathan minal iman” mencintai tanah air sebagian dari iman, bahwa mempertahankan kemerdekaan Indonesia hukumnya fardhu ain.
2. Menyebarkan Islam Moderat Rahmatan Lil ‘alamin
Alumni pesantren dipinta atau tidak, dibutuhkan atau tidak, memiliki sebuah tangung jawab besar untuk mengamalkan nilai nilai luhur , Budi pekerti dan ilmu yang diperoleh dari kyai ketika dipesanten.
Terlebih kita sebagai warga Nahdliyyin harus selalu mengingat 3 ukhuwah yang diajarkan oleh kyai Ahmad Siddiq
– ukhuwah Islamiyyah (persaudaraan umat islam
– ukhuwah wathaniyyah ( persaudaraan sesama bangsa Indonesia)
– ukhwah Basyariah (persaudaraan sesama umat manusia)
Jika santri selalu berpegang teguh kepada tiga ukhwah tersebut tentu tidak ada peluang untuk menyakiti siapapun , karena kita sama sama orang Islam, sama sama orang Indonesia, bahkan kita sama sama Manusia.
Sehingga ajaran Islam bisa diterima oleh masyarakat sesuai dengan perintah Rasulullah.
3. Jangan pernah berhenti belajar.
Tentu sudah diluar kepala ucapan Baginda nabi ” Tholabul Ilmi faridoyun ‘ala kulli muslimin wa muslimatin”
Menuntut ilmu itu sebuah kewajiban, ditegaskan kembali bahwasanya menuntut ilmu dimulai dari buaian sampai liang lahat.
Tradisi santri ketika dipesanten adalah Mengaji , mengabdi Manut kyai dan banyak lagi.
Ketika kita sudah mendeklarasikan turut serta memperingati hari santri sebaiknya bukan hanya sekadar seremonial belaka, harus dibarengi dan mencontoh sifat-sifat yg mencerminkan kesantrian.
Hari ini kita dihadapkan oleh beberapa golongan orang yg menganggap dirinya sudah paling benar, paling pintar dan paling tahu, sehingga menganggap sekelompok lainnya yg berbeda akan disalahkannya , dibid’ahkannya bahkan parahnya dikafirkan. “Nauzubillah”. Tentu ini tidak sesuai dengan sabda nabi. Ketika seseorang yg sudah merasa cukup, merasa pintar, merasa yg paling tahu maka sesungguhnya ia sedang menunjukkan kebodohannya.
Hal hal seperti itu tentu harus kita hindari, dimanapun , kapanpun , bersama siapapun , rendahkan lah diri kita, hormatilah orang orang berilmu, posisikan diri kita sebagai santri.
Beranikan diri kita sama sama mengatakan
“Ngaji sampai mati, santri sampai mati”.
Ibnu Sina
Pengurus cabang 2018-2019
Ketua PAC ANSOR KEC RAJABASA.












