TUBAN – Setiap orang tentunya sudah pernah merasakan patah hati, baik yang tidak memiliki pasangan, yang sudah menikah, atau pun patah hati dalam hal lain. Sama halnya dengan Siti Nur Aidah. Perempuan yang aktif di Teater Giri, mencoba dan berusaha mengekspresikan dirinya lewat bait-bait puisi yang penuh makna.
Perempuan kelahiran Tuban, 29 Desember 1997 ini bercerita dengan gaya khasnya yang penuh dengan canda tawa. Akan tetapi, dari canda tawa itu ada luka yang harus di sembuhkan.
“Alhammdulillah, berawal dari patah hati yang ingin mengungkapan rasa namun tak tau caranya. Akhirnya melampiaskan pada kertas-kertas yang berserakan,” ceritanya sambil tertawa terbahak-bahak.
Maka dari itu, Aida, perempuan yang suka menari mengungkapkan dari patah hati dan jatuh cinta, ia eskpresikan lewat beberapa karya diantaranya; Antologi Essay dan Puisi “Aku dan Pendidikan”, Antologi Puisi “Sajak Sandiwara”, Antologi Puisi “Kisah yang Kusampaikan” dan Antologi Puisi “Liku Tanpa Ujung”.
Dia menambahkan, awal menulis sebenarnya sudah dari Aliyah. Seperti menulis coretan puisi atau cerita pendek. Karena di Aliyah baru mengenal rasa cinta itu apa dan rasanya patah hati itu bagaimana, dan akhirnya menuliskannya dalam lembaran.
Dan untuk menulis yang sungguh-sungguh baru Oktober 2019, itu pun awal mengikuti event menulis puisi yang diadakan IMPI Pusat (Ikatan Mahasiswa PGMI Se-Indonesia).
“Hehe… bahkan ketika luka ternyata bisa memunculkan ide yang biasanya muncul ketika tengah malam menjelang tidur. Kemudian aku tulis pada keyboard Handphone biar besok jadi bahan tulisan,” ujarnya.
Alumni IAI Sunan Giri Bojonegoro ini merupakan buah cinta dari Su’at dan Kastik, warga Desa Kenongo, Kecamatan Soko, Kabupaten Tuban, Jawa Timur. Dia membuktikan, perempuan yang lahir dari perdesaan bisa berkarya baik lewat menulis atau pun Teater. (Am)












