TUBAN – Mengutip pernyataan Bhagawan Sri Sthya Sai Baba; “Hidup adalah sebuah tantangan, maka hadapilah. Hidup adalah sebuah nyanyian, maka nyanyikanlah. Hidup adalah sebuah mimpi, maka sadarilah. Hidup adalah sebuah permainan, maka mainkanlah. Hidup adalah cinta, maka nikmatilah.” Hal itu tentunya menjadi inspirasi bagi Siti Nur Afifah, agar untuk lebih maju, suka tantangan dan memiliki karir yang baik.
Akan tetapi, tak sedikit pula dari para perempuan yang suka dengan tantangan. Misalnya, mahasiswa yang harus aktif menjadi pengajar dan berorganisasi.
Menurut Iffa, sapaan akrabnya mengatakan ada banyak tantangan yang harus dihadapi perempuan ketika mau aktif berorganisasi baik di manapun itu. Namun yang paling berpengaruh dan harus dilawan adalah diri kita sendiri.
“Ketika kita tidak bisa mengubah orang lain paling tidak ubah dulu diri sendiri, dan tentunya kita harus berani juga untuk melawan ketakutan pada diri sendiri,” ujar Iffa kepada Infoberita.Id saat diskusi disalah satu warung kopi Bojonegoro, Kamis (7/1/2021).
Dia menuturkan, secara tidak sadar, kita sebagai perempuan acap kali menganggap rendah dirinya sendiri. Sebab, ada pandangan perempuan sukses dianggap ambisius, padahal perempuan itu harus suka tantangan dan memiliki karir yang baik. Dan perempuan harus menunjukkan kemampuannya.
Oleh karena itu, Iffa pun menambahkan perempuan harus memiliki karakter konstruktif dengan ikut terlibat dalam beragam hal di lingkungan baik menajdi aktivis organisasi kampus atau pun organisasi kepemudaan dilingkungan rumah.
“Dan kita sebagai kaum perempuan pun harus memiliki sikap empati jika ingin menjadi seorang yang sukses,” tambahnya.
Iffa, yang merupakan Ketua Himaprodi PAI IAI Sunan Giri Bojonegoro sangat bersyukur perihal ada tantangan dalam hidupnya. Bisa membagi waktu, antara pekerjaannya menjadi pengajar di Madrasah dan menjadi aktivis de beberapa organisasi baik IPPNU, Pramuka dan PMII.
“Sebenarnya, tips kita bisa membagi waktu, hanya diri sendirilah yang bisa menentukan pembagian waktu dan setiap orang berbeda-beda,” kata perempuan asal Desa Maibit Kecamatan Rangel Kabupaten Tuban ini.
Menurutnya, banyak yang bilang ketika sudah mengajar, dia lupa organisasinya, karena memang benar di madrasah itu tidak hanya berangkat mengajar lalu pulang. Namun, kita harus berani mempriorotaskan dan pintar membagi waktu. (Am)













Mantappp