banner 325x300
Daerah

Tanpa Proses Tender, 2 Proyek Pembangunan di RSUD Bob Bazaar Disinyalir di Mark-up

408
×

Tanpa Proses Tender, 2 Proyek Pembangunan di RSUD Bob Bazaar Disinyalir di Mark-up

Share this article
KALIANDA – Pembangunan pagar RSUD Bob Bazaar (RSBB) senilai Rp1.281.347.056.00 dan pembangunan selasar di rumah sakit yang sama senilai Rp987.305.296.00 yang anggarannya berasal dari belanja tak terduga (BTT) dalam APBD 2020 untuk penanganan Covid-19 yang dilaksanakan tanpa tender diduga di mark-up.
Hal ini dapat dilihat dari kondisi hasil 2 pekerjaan tersebut di lapangan. Untuk pagar, dari pantauan tinggi pagar hanya kurang lebih 2 M, ketebalan hanya kurang lebih 5 CM dengan panjang pagar sekitar kurang lebih 100 M. Kondisi bangunan pun sederhana tidak ada yang istimewa, terkesan standar saja. Selain itu, pengerjaan pun diduga dilakukan tanpa perhitungan yang akurat, karena dapat dilihat tinggi antara sisi pagar dengan sisi pagar yang lainnya berbeda. Kemudian pagar tembok tersebut dicat tipis warna krem dan di bagian atas diberi kawat berduri.
“Wah, pembangunan pagar ini kalau 1 M mah kemahalan. Saya berani kalau borongan 700-800 juta, itu sudah cukup dapat untung yang lumayan. Apalagi kualitas dinding pagar biasa saja untuk ukuran bangunan senilai lebih dari 1 miliyar. Ditambah tinggi pagar terlihat tidak rata, satu sisi pagar dengan sisi pagar lainnya berbeda ketinggiannya,” ujar D. Armady warga Kecamatan Palas ini, saat ditemui di lokasi, Kamis 29 April 2021.
Di lokasi yang sama, pembangunan Selasar atau Koridor terlihat belum rampung dibangun. Dimana bangunan terlihat masih dengan kondisi semen kasar, dengan celah lubang kecil dimana-mana. Tidak berbeda jauh dengan kondisi lantai bangunan itu yang hanya baru sebatas semen hamparan dengan kondisi semen telah hancur menjadi tanah.

“Apa lagi pembangunan Selasar, parah banget. Keseluruhan bangunan masih dengan kondisi semen kasar baru di plester. Umumnya bangunan itu setelah tahapan di plester, kemudian disemen halus atau di aci. Kemudian tahapan akhirnya di finishing. Kalau perkiraan saya, bangunan tersebut baru terealisasi sekitar 80%. Yang cukup makan biaya ya tahapan finishingnya itu,” imbuh Armady.
Sementara, Direktur RSBB dr Media Apriliana belum lama ini mengungkapkan bahwa untuk urusan tekhnis kedua bangunan itu ada di Dinas PU-PR. Baik itu untuk pejabat pembuat komitmen (PPK) maupun penunjukan pihak penyedia jasa.
“Kalau usulan memang dari kami, karena kebutuhan beberapa fasilitas di area bangunan ruang isolasi yang terletak paling ujung kompleks rumah sakit. Seperti usulan pembangunan pagar, menurut saya sangat penting, karena berbatasan langsung dengan pemukiman penduduk sekitar.
Begitu juga dengan usulan pembangunan Selasar, menurut Nana, dengan dibangunnya koridor penghubung antar bagian RS amat sangat membantu paramedis untuk mengakses area ruang isolasi.
“Cukup penting dan bersifat segera. Karena dengan dibangunnya fasilitas Selasar itu akan sangat membantu mobilitas seluruh karyawan di rumah sakit. Seperti membawa perlengkapan kesehatan, maupun pasien,” imbuhnya seraya menolak mengomentari hsil pekerjaan 2 bangunan tersebut..
“Bisa dilihat sendiri. Kalau mau, bisa saya atau karyawan lain yang mengantar ke lokasi bangunan. Kami terbuka, semua pihak bisa menilai bagaimana kami selama ini dalam bekerja untuk penanganan Covid-19,” tukas wanita berhijab ini.
Kembali ke lokasi, di sekitar kedua bangunan tersebut terdapat 2 papan pengumuman proyek untuk masing-masing kegiatan. Untuk pembangunan pagar, informasi yang disajikan hanya judul pekerjaan, kegiatan, nomor SPMK, nomor SPPBJ, pagu anggaran senilai Rp1.484.000.000.00 dan pelaksana CV Indo Persada. Artinya, jika dilihat pagu anggaran 1,484 M sedangkan dilaporkan terealisasi Rp1,281 M, maka terdapat selisih Rp203 juta dari nilai pagu dengan penyerapan anggaran dari prestasi kerja, atau hanya 86,34%.
Kemudian, di papan pengumuman untuk kegiatan pembangunan selasar, tertulis pagu anggaran Rp990.000.000.00 dengan pelaksana proyek CV Dwi Persada. Kemudian, dengan nilai pagu itu dan laporan realisasi RpRp987.305.296.00 terjadi selisih Rp2,6 juta atau sekitar terserap 99,97%.
(Tim)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *